Seperti yang kita ketahui tentang hadist Rasulullah SAW tentang pentingnya seorang muslim yang memiliki ilmu dijelaskan pada sebuah hadist yang berbunyi “man arodat dunYA fa alaihi bil ilmi waman ATODAL akhiro fa alaihi bil ilmi” yang memiliki arti seorang manusia membutuhkan ilmu untuk dipergunakan di dunia mauun di akhirat. Atas dasar itulah GO Edu diciptakan untuk meminimalisir penggunaan internet pada remaja kebanyaakan menggunakan untuk hal – hal yang kurang bermanfaat. Melalui blog GO Edu ini kami memfasilitasi para pengguna untuk menggali informasi, berkarya, diskusi atau hanya sekedar memperoleh sebuah informasi saja
Dalam
tradisi pendidikan Islam, hampir semua contoh perilaku tentang sebaikbaiknya
manusia selalu dinisbatkan terhadap pribadi Muhammad, rasul semesta alam. Dalam
pribadi Nabi banyak i’tibar atau pelajaran yang bisa dilihat dan ditiru karena
sepanjang hidupnya Nabi selalu memberikan contoh perilaku yang seharusnya mudah
diteladani umatnya. Ambil contoh misalnya perilaku nirkekerasan, mudah
memaafkan orang, sangat toleran, dan teguh pada pendirian. Dalam beragam
hikayat, perkataan dan perilaku Nabi ialah sumber pencerahan kondisi aktual
masyarakat yang memiliki relevansi hingga hari ini.
Dalam
keseharian, sebenarnya para guru kita bisa secara implementatif mempraktikkan
empat sifat Nabi yang sangat populer di kalangan umat Islam dalam proses
belajar-mengajar. Jika para guru memiliki daya kritis dalam menilai siklus
sifat Nabi, seperti yang kita ketahui GO Edu ini bisa dikatakan “sekolahnya orang yang memiliki koneksi
internet” terlepas dari siapa saja itu bagi siswa, bagi seorang alumni,
bagi orang tua, mahasiswa, seorang yang tidak meneruskan pendidikan atau yang
lainnya. GO Edu tidak akan dan tidak akan pernah melupakan tentang adab beradab
dalam menuntut ilmu. Dalam hal tersebut kami sebagai pembuat blog berpedoman
pada sifat nabi.sebuah sekolah pasti akan memiliki bangunan budaya sekolah yang
kuat karena karakter dan kesadaran individual para pemangku kepentingan
sekolahnya bergerak berdasarkan pemahaman dan kesadaran yang utuh terhadap
sifat Nabi tersebut. Sama halnya yang diterapkan di sekolah formal, GO Edu juga
berharap dapat menginplentasikan sifat rasulullah dengan baik melalui berbagai
cara.Yang sering terjadi sifat Nabi itu kebanyakan dihafal sebagai panduan
moral semata, tanpa ada keinginan untuk menerjemahkannya dalam praktik
keseharian.
Siklus
sifat Nabi :
Agar
menjadi siklus implementasi pedagogis, memahami dan mempraktikkan sifat Nabi
dalam keseharian sebenarnya merupakan kebutuhan individu seseorang tentang
makna belajar. Karena itu, penting bagi setiap guru dan siswa untuk mulai
menyadari pentingnya daya kritis dan kecerdasan sebagai dasar untuk terus
belajar. Sebagaimana fathonah yang berarti cerdas, ialah tugas seorang
terus membaca agar kecerdasan terus bertumbuh. Dari sisi kehidupan Nabi, tanda
kecerdasan beliau terlihat dari cara-cara Nabi menyelesaikan masalah, melihat
kondisi sosial masyarakat secara tajam, bahkan dengan proses yang tak pernah
menyakiti orang kecuali orang-orang yang memang membencinya.
Jelas
terlihat meskipun Nabi amat populer dengan julukan ummiy, beliau ialah
seorang pemikir yang mempergunakan kelebihan akal pikiran atau otak yang
diberikan Tuhan untuk menganalisis setiap persoalan yang ada. Jika di relung
pikir setiap orang tumbuh kesadaran untuk terus belajar dan membaca dalam
rangka mempertahankan kecerdasan otaknya, daya kritis dalam melaksanakan proses
belajar-mengajar pasti akan penuh dengan imajinasi dan kreativitas. Penanda
kecerdasan dalam aspek pedagogis ialah munculnya imajinasi dan kreativitas
dalam mengelola proses belajar-mengajar.
Setelah
fathonah dilaksanakan secara jelas dan terusmenerus, tugas seorang guru
dalam konteks siklus sifat Nabi selanjutnya ialah memberikan contoh dan
keteladanan sikap dalam praktik mengajar sehari-hari. Penanda amanah, sifat
Nabi yang kedua, ialah bertanggung jawab secara konkret dalam memberikan contoh
perilaku yang baik kepada pengguna. Amanah tak hanya berarti bertanggung jawab
terhadap apa yang menjadi tugas utama seorang guru dalam mengajar, lebih jauh
daripada itu ialah bagaimana bertanggung jawab dalam memberikan keteladanan.
Tanpa keteladanan, mustahil bagi sebuah blog akan memiliki sifat amanah secara
sempurna. Penting untuk diingat, untuk menjadi amanah, seseorang dan apalagi
seorang guru perlu memiliki kecerdasan (fathonah) terlebih dahulu.
Jika
praktik fathonah dan amanah secara implementatif telah dijalankan dalam
skema pedagogis pengajaran sehari-hari, siklus sifat Nabi selanjutnya ialah
tabligh atau menyampaikan. Dalam bahasa sosiologis, tabligh sebenarnya
merupakan kemampuan atau kompetensi sosial seorang guru dalam menjalin hubungan
dan berinteraksi dengan semua siswa, sejawat guru, kepala sekolah juga dengan
masyarakat atau orangtua siswa. Network atau silaturahim atau kemampuan
berkomunikasi dengan baik dan santun mungkin relevan untuk disematkan terhadap
para guru yang ingin memperoleh tanda sebagai ahli waris sifat Nabi yang ketiga
ini. Bisa dibayangkan jika seorang guru tak memiliki kemampuan bersilaturahim
dan berkomunikasi dengan baik, pasti secara otomatis dia tidak cerdas (fathonah)
dan tak suka menjadi teladan (amanah) bagi orang lain.
Bisa
dikatakan jika seseorang ingin mewarisi sifat-sifat Nabi pada dirinya, secara
individual yang perlu ditanamkan dan dilakukan ialah menunjukkan kecerdasan
dalam belajar, mampu memberikan teladan secara konsisten, serta memiliki
kemampuan menjalin silaturahim kepada setiap orang. Mungkin terbaca hal itu
sangatlah sederhana, tetapi tanpa disiplin individual yang terus-menerus untuk
mempraktikkannya, akan mustahil bagi sebuah blog memperoleh kategori bisa dan
dapat dipercaya (siddiq) oleh para pengguna.
Sebagai
sifat nabi keempat, siddiq jelas merupakan label yang diberikan orang
lain terhadap seseorang yang telah membuktikan kecerdasannya untuk terus mau
belajar, mampu memberikan teladan kebaikan, serta memiliki keterampilan
berkomunikasi yang dibutuhkan. Sifat siddiq merupakan hasil atau output
dari usaha perseorangan dalam membuktikan diri menjadi orang yang bisa
dipercaya. Seorang guru bisa dikatakan berhasil dan dipercaya siswa atau
masyarakat jika memiliki usaha sendiri dalam membuktikan diri untuk terus belajar,
memberi teladan, dan bersilaturahim dengan baik.
Jika
hidup adalah sebuah siklus hidup-mati-dan-hidupkembali sebagaimana semua agama
meyakini soal hari kebangkitan (resurrection), seharusnya para guru
muslim tak sulit untuk belajar dari siklus sifat Nabi Muhammad SAW yang penuh
teladan sehingga kerumitan persoalan belajar-mengajar selalu bisa diatasi dan
memperoleh jalan keluar yang sebenarnya. Pentingnya mempelajari siklus sifat
Nabi secara benar ialah sebuah tuntutan keharusan bagi setiap guru muslim. Jika
tidak, hal itu artinya sama dengan bentuk kebohongan, sementara hampir semua
umat Islam mengaku mencintai Nabi Muhammad, tetapi keteladanan Muhammad dalam
siklus sifat hidupnya tidak pernah dipahami dan dipraktikkan secara benar.
Dalam bahasa agama kebohongan semacam ini bisa disebut sebagai kelalaian (wayl),
sebuah perilaku rata-rata masyarakat jahiliah yang senang berbohong dan
meremehkan persoalan.


0 komentar:
Posting Komentar